Pilihan Yang Terbaik

TheNewClubs – Ziva melakukan joging mengelilingi komplek rumahnya. Ziva adalah sosok gadis periang, pintar, cantik, ramah, juga Ziva adalah sosok gadis yang memiliki hobi bernyanyi, karena suaranya yang bagus membuat Ziva mendapatkan banyak dukungan dari orang terdekatnya.

Meskipun Ziva mendapatkan banyak dukungan, tetapi juga tidak dapat dipungkiri jika masih banyak orang yang meragukan dengan bakat bernyanyi Ziva.

Hal itu sungguh tidak membuat Ziva menyerah. Ziva tidak pernah mendengarkan kalimat keraguan itu. Ziva tetap pada pendiriannya. Akan terus berusaha yang terbaik untuk masa depannya nanti.

Suatu hari Ziva pergi ke tempat les vokal. Ziva sebenarnya sudah di daftarkan ke tempat khusus pembekalan vokal, tetapi Ziva tidak pernah datang ke sana karena menurutnya itu hanya akan membuang-buang biaya saja.

Untuk ikut les khusus vokal saja biaya nya sangat mahal, sedangkan Ziva hanya akan bernyanyi saat moodnya sedang baik saja. Di sekolah Ziva juga selalu di ajukan untuk mewakili lomba menyanyi untuk sekolahnya.

Tetapi Ziva tetap menolak karena menurut Ziva sendiri belum saatnya Ziva bernyanyi di depan umum apalagi jika dilihat banyak orang itu sungguh membuat Ziva menjadi sangat gerogi.

Dirumahnya sendiri Ziva mempunyai perlengkapan untuk bernyanyi juga, seperti microfon, piano, gitar dan masih banyak lainnya. Perlengkapan nyanyi itu Ziva simpan di salah satu ruangan khusus untuk dirinya bernyanyi.

Ruangan itu disediakan oleh ayah Ziva yang saat ini tengah berada di luar pulau. Ziva tinggal bersama nenek dan kakeknya di Jakarta, sedangkan ayah dan ibu nya tinggal di Batam.

Ziva memilih tinggal di Jakarta karena sejak kecil Ziva sudah terbiasa dengan keseharian orang-orang di tempat tinggal orang tuanya. Ziva ingin mencari suasana baru untuk tinggal di Ibu Kota ini.

Ziva pergi ke sekolahnya menaiki ojek online. Sebenarnya di rumah Ziva sudah disediakan mobil juga seorang sopir karena jika mengendarai kendaraan roda empat pasti akan terlambat datang ke sekolah, karena nantinya pasti jalanan akan mengalami kemacetan.

Ziva sampai di sekolahnya. SMA GARUDA, salah satu sekolah menegah atas yang dididam-idam kan oleh orang-orang daerah Jakarta Pusat. Ziva adalah salah satu diantara siswa-siswi yang beruntung karena dapat di terima di SMA tersebut.

Ziva mempunyai sahabat yang berbeda kelas dengannya. Namanya adalah Lyora. Lyora berada di kelas 11 IPA 2, sedangkan Ziva berada di kelas 11 IPA 4.

Mungkin karena inisial nama depan Ziva adalah abjad terakhir. Meskipun tidak satu kelas tetapi mereka kemana–mana pasti akan berdua. Ziva dan Lyora dianggap anak gadis kembar berbeda rahim oleh teman-temannya.

Sama seperti Ziva, nyatanya sosok Lyora memiliki suara yang unik. Lyora sempat di tawari oleh salah satu produser musik untuk menyayikan sebuah lagu yang sudah di buat.

Tetapi Lyora menolak karena ingin fokus sekolah dulu, untuk masalah karir bisa di bicarakan nanti saat Lyora lulus sekolah. Pihak produksi musik mewajari penolakan Lyora itu.

Lyora mengajukan Ziva agar Ziva yang menyayikan lagu itu saja, tetapi Ziva sama seperti Lyora menolak nya. Menurut Ziva produser musik itu mencari seseorang yang kuat untuk menyanyikan lagu nya dengan nada tinggi.

Sedangkan Ziva belum dapat menyayikannya karena suaranya belum matang. Ziva juga memiliki seorang teman dekat bernama Ardhan. Mereka sudah dekat saat keduanya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Tetapi tidak ada kemajuan sama sekali untuk kejelasannya. Tetapi tidak munafik Ziva juga menginginkan suatu kepastian tentang hubungan.

Munafiknya Ziva menunggu kejelasan hubungan tak menentu, bila tidak kunjung datang kepastian tentang waktu. Ziva menunggu hari-hari mereka yang tidak ragu, untuk meyakinkan Ziva bila mereka berdua, Ziva dan Ardhan tidak sekedar buang buang waktu.

Ziva menyukai Ardhan, tetapi Ziva juga telah mengetahui jika Ardhan menginginkan gadis lain. Mengingat itu sungguh membuat Ziva ingin menangis saja. Tetapi Ziva berusaha untuk terlihat baik-baik saja.

Ziva pergi ke kantin sekolah memesan makanan dan duduk di salah satu bangku makan kantin, menunggu pesanan juga menunggu Lyora. Seseorang datang dan duduk di samping Ziva, seseorang yang tidak ingin Ziva temui hari ini.

Ziva sudah berusaha menghindar saat Ardhan tadi masuk ke dalam kelasnya, Ziva besembunyi dan meminta teman-temannya mengatakan jika Ziva tidak ada di kelas.

Tetapi mengapa harus bertemu juga saat Ziva di sini. Apakah Ardhan memiliki darah keturunan kuyang?. Datang tidak di undang dan kembali pergi tanpa di antar.

Ziva berusaha untuk tidak merespon Ardhan sama sekali. Tetapi Ziva juga tidak bisa mendiami Ardhan karena tidak ada alasan yang tepat untuk menjawab nantinya.

Tiba-tiba saja Ardhan mengatakan sesuatu tentang hubungan mereka. Hal itu sungguh membuat tubuh Ziva menegang. Ardhan kembali mengatakan agar Ziva menunggu nya, Ardhan tidak akan membiarkan Ziva pergi.

Tetapi juga tidak dapat dipungkiri jika Ardhan tidak bisa meninggalkan tujuan masa depannya. Ardhan menggenggam tangan Ziva dari samping membuat Ziva menoleh. Ardhan tersenyum.

Tetapi ucapan Ziva tidak seperti apa yang Ardhan bayangkan. Ziva menyuruh Ardhan untuk menoleh ke depan, apakah ada jalannya. Ardhan mengangguk. Ziva kembali mengatakan akankah mereka akan berakhir bersama atau tidak.

Hal itu membuat Ardhan diam. Ardhan bingung harus menjawab bagaimana. Ziva ingin bermimpi untuk bersama Ardhan, Ziva ingin pergi jauh dari Ardhan.

Bahagia diujung hari nanti, akankan pernah terjadi untuk ke duanya. Seperti awalnya tadi, tidak munafik Ziva menunggu suatu hubungannya yang tak menentu, bila tetap tidak akan ada kepastian untuk waktu.

Ziva pergi ke perpustakaan karena kelasnya sedang jam kosong. Ziva pergi ke salah satu rak untuk buku buku khusus. Ziva meraih buku yang berada dalam rak yang sedikit tinggi, membuat Ziva kesusahan.

Ziva terus berusaha mengambilnya, tetapi apalah daya dengan tinggi Ziva yang hanya di bawah 160 cm. Tiba tiba ada sebuah tangan kekar yang mengambilkan buku itu dari samping Ziva. Ziva menoleh ke arah itu. Sosok itu adalah Danar.

Danar menyerahkan buku itu pada Ziva dan segera di terima oleh Ziva. Ziva mengucapkan terima kasih lalu pergi menuju kursi yang di sediakan untuk membaca di dalam perpustakaan.

Tak lama Danar menyusul Ziva. Danar mendudukan dirinya di kursi sebelah meja tepat di depan Ziva duduk. Mereka saling diam dan fokus pada buku nya masing-masing.

Lyora menunggu Ziva di depan gerbang sekolah. Lyora menunggu karena ingin pergi ke rumah Ziva, jadi sekalian saja Lyora menunggu Ziva.

Tetapi sudah 10 menit setelah bel pulang berbunyi, Lyora tidak melihat tanda-tanda Ziva datang padahal teman sekelas Ziva mengatakan jika Ziva masih di belakang, tapi tidak kunjung datang.

Seseorang datang dengan motornya menghampiri Lyora dan berhenti di depan Lyora. Orang itu melepas helm nya. Lalu bertanya pada Lyora kenapa Lyora masih ada di sekolah. Lyora mengatakan jika dirinya menunggu Ziva.

Ardhan terkejut, bukannya tadi teman Ziva mengatakan jika Ziva sudah pulang lebih awal tapi kenapa Lyora masih menunggu Ziva, apa Ziva tidak memberitahu Lyora.

Ardhan memberi tahu Lyora jika tadi teman sekelas Ziva mengatakan jika Ziva sudah pulang. Lyora mengangguk lalu berpamitan pada Ardhan untuk pulang duluan.

Ardhan mencegah Lyora, membuat Lyora dan menatap Ardhan dengan penuh kebingungan. Ardhan menawarkan tumpangan pada Lyora, saat Lyora akan menjawab Ardhan segera memasangkan helm di kepala Lyora.

Ardhan menyalakan mesin motornya, segera Lyora naik ke jok belakang motor Ardhan. Setelahnya mereka berdua pergi meninggalkan sekolah.

Tanpa mereka sadari, ternyata sedari tadi Ziva melihat interaksi keduanya. Ziva berusaha menerima kenyataan pahit itu. Mungkinkah ini adalah pilihan yang sudah tepat untuk masa depan Ziva, agar tidak terlalu berharap pada Ardhan.

Ardhan meminta Ziva untuk menunggu, tetapi Ardhan sendiri tidak dapat menepati kata kata nya yang mengatakan bahwa Ardhan menerima Ziva ke dalam kehidupannya.

Tetapi nyatanya Ardhan tidak bisa memegang ucapan itu, Ardhan kembali mempedulikan Lyora seperti dulu lagi. Saat mereka sama-sama baru memasuki Sekolah Menengah Atas (SMA), Ardhan sempat mengatakan jika dirinya menyukai Lyora sahabat Ziva.

Mendengar pengakuan Ardhan sungguh membuat Ziva sakit. Ziva menyukai sahabatnya yaitu Ardhan, tetapi mengapa Sahabatnya laki-lakinya ternyata juga menyukai sahabat perempuannya.

Terlalu fokus pada Ardhan membuat Ziva tidak menyadari kehadiran Danar di samping nya. Danar menatap Ziva yang diam dari tadi, Danar menyentuh bahu Ziva.

Ziva terkejut reflek menjauh, lalu menoleh pada Danar. Saat menyadari jika itu Danar, Ziva menghembuskan nafas lega sambil mengelus dada nya.

Danar tertawa melihat wajah terkejut Ziva yang menurutnya terlihat sangat lucu, apalagi dengan tubuh Ziva yang dikatakan mungil juga pipi Ziva yang chubby.

Ziva menggembungkan pipinya menambah kesan lucu pada nya. Danar menghentikan tawanya lalu mengikuti ekspresi Ziva. Ziva tertawa melihat Danar yang menirukannya.

Melihat tawa Ziva kembali membuat Danar terpesona dengan parasnya yang cantik. Tak lama Ziva berhenti tertawa, lalu mengerutkan dahi nya melihat Danar yang tengah melamun.

Ziva memanggil Danar berkali-kali tetapi Danar tetap tidak mendengarnya. Dengan kesal Ziva memukul lengan kanan Danar dengan sangat kuat.

Hal itu sungguh membuat Danar terkejut lalu mengelus lengannya yang terasa sakit karena di pukul tangan mungil Ziva. Ziva senang saat melihat Danar kesakitan oleh ulahnya.

Beberapa hari setelahnya, Ziva menghindari Ardhan juga Lyora. Saat Lyora menghubunginya lewat media sosial berkali-kali, tetapi Ziva tidak mengangkatnya sama sekali.

Bahkan saat di sekolah pun Ziva mencari kesibukan agar tidak bertemu dengan mereka berdua. Bahkan Ziva lebih memilih menghabiskan waktu nya bersama Danar untuk saling bertukar cerita juga beberapa materi pelajaran.

Ziva juga menghabiskan hari-hari bernyanyi di ruangan ekstrakulikuler di iringi dengan suara gitar yang dimainkan oleh Danar.

Ziva merasa harinya akhir-akhir ini terasa sangat bahagia. Berbeda dengan hari hari yang Ziva jalani untuk menunggu seorang Ardhan.

Apakah Ziva memang harus siap untuk pergi dari kehidupan Ardhan, tetapi untuk apa Ziva terus memaksakan terus bersama? Bertahanpun hanya akan membuat Ziva terluka, Ziva merasa jika rasa nya kepada Ardhan sudah semakin hilang.

Ziva juga semakin terbiasa tanpa kehadiran sosok Ardhan. Ziva sudah menghilangkan Ardhan dari perasaan terdalamnya.

Memang kedua nya telah lama bersama, namun apalah artinya? Ziva merasakan cinta sekaligus terluka. Dan itu tidak akan membuat nyaman untuk jalannya nanti.

Ziva tidak akan memaksakan perasaannya lagi, bila semua nya sudah berbeda. Untuk apalagi Ziva mempertahankan nya. Jika Ardhan dan Ziva saja sudah tidak sejalan.

Ziva lebih nyaman dan tenang saat di dekat Danar, dan Ziva juga melihat jika Ardhan juga nyaman bersama Lyora kembali. Ziva akan membuang rasanya pada Ardhan dan akan kembali meraih harapannya.

Ziva akan terus berusaha menggapai mimpinya lagi, Ziva tidak ingin rencana yang telah di rancang hancur begitu saja hanya karena sakit hati. Ziva tidak ingin itu terjadi.

Ziva akan kembali pada tujuan pertama hidupnya yaitu mematangkan karirnya sebagai seorang penyanyi populer. Ziva tidak menyalahkan untuk semua kenangan yang sudah di laluinya bersama dengan Ardhan.

Keputusan Ziva untuk menjauh dan pergi dari sosok Ardhan sudah tepat. Ziva tidak akan memaksa kehendaknya agar Ardhan terus bersama dirinya.

Ziva juga sudah yakin dengan keputusannya ini, Ardhan pasti akan terbebas tanpa adanya Ziva. Ini sudah tepat. Ziva yakin dengan semuanya pasti kedepannya akan baik-baik saja.

Ziva akan kembali mengejar impian yang sudah di rencanakannya. Ziva yakin jika pilihannya ini adalah yang terbaik. Menjauh dan melupakan kisah kelamnya.
END

You May Also Like

About the Author: administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published.